Penulis : S.N Ratmana
Penerbit : Forum Lingkar Pena (FLP) Tegal Self Publishing
Tahun Terbit : 2011
Jumlah Halaman : 240 Halaman
Jumlah Halaman : 240 Halaman
**Jumlah Bab dalam buku ini adalah 4 Bab.
BAB I
Afi, gadis kecil berusia 9 tahun
tinggal bersama Ayah, Ibu , Adik dan Kakeknya. Untuk memperingati Usia
Kakeknya, Yayat bin Thayib yang genap 70
tahun, atas kemauan Ibu Afi, Keluarga Afi mengadakan syukuran. Syukuran
tersebut dihadiri sekitar 15 orang termasuk Paklik dan Bulik Afi. Kakek hendak
mengisi tasyakuran tersebut dengan sebuah kejutan. Keluarga Afi mengira bahwa
Kakek akan menyanyikan lagu lagu Jepang yang beliau pelajari dulu waktu SD.
Kakek tidak menyanyikan lagu jepang, justru membuka tas tua yang berisi setumpuk
buku tulis. Buku itu adalah catatan kakek selama masih kanak kanak dan tentu
saja sudah tua umur buku tersebut. Kakek membacakan isi buku tersebut kepada
para hadirin dengan suara lantang. Isinya tertuang dalam 3 bab ini, berikut
kisahnya.
Yayat beserta Ibu dan Kakaknya
mengembara dengan tujuan ke kota Pekalongan yang mereka mulai sejak tanggal 20
Desember 1948. Sudah pasti perjalanan mereka menuju Pekalongan adalah untuk
bersilaturahmi pada Keluarga Raden Haji Sulaiman (Wak Kaji) dan Wak Brenti.
Perjalanan ini mereka lakukan dengan naik dokar. Yayat sudah membayangkan
makanan apa saja yang disiapkan keluarga Wak Kaji sesampainya mereka disana.
Selama diperjalanan, Ibu Yayat sering murung memikirkan nasib Pak Thayib yang
ditangkap oleh Belanda di tengah hutan. Ibu Yayat meminta agar anak anaknya
selalu mendoakan Ayah mereka. Selama naik dokar, Yayat mengamati kuda dokar
yang ia tumpangi. Ia membandingkan dokar ditempat itu dengan di Wonosobo yang
agaknya ditempat itu dokarnya lebih bagus dan kudanya lebih gagah.
Setelah
perjalanan, mereka menginap di rumah Wak Parto (Sahabat Karib Pak Thayib waktu
muda). Meski sehari saja, serasa lama karena sikap Wak Parto yang bersebrangan
dengan mereka yaitu Pro pada Penjajah Belanda. Wak Parto sendiri termasuk orang
yang disegani karena beliau jago silat. Namun sayangnya, meskipun beliau
berpendidikan rendah, lagaknya seperti orang yang berpendidikan tinggi. Sempat
terjadi berkali kali ketegangan diantara Wak Parto dan keluarga Yayat karena
Wak Parto lagi lagi mengagungkan Belanda. Terlebih menghina bahwa Presiden
Soekarno pemimpin yang mencla mencle dan Pro pada penjajah Jepang. Pembicaraan
Wak Parto yang lagi lagi mengangungkan Belanda selesai karena beliau mencela
Ayah Yayat, Pak Thayib yang tidak mau bergabung dengan Belanda. Sehingga Ibu
Yayat pun tersinggung dan marah.
Perjalanan mereka selama melewati
desa Wonopringgo agaknya menyakitkan bagi Yayat. Ia melihat bangunan Sekolah
yang mana tempat belajar ia dan teman teman sebayanya. Alangkah terhinanya
bangsa ini, anak anak bangsa dididik pada sekolah yang dikuasai Belanda. Mereka
harus dididik mencintai bendera Belanda (Merah, Putih, Biru). Sesampainya di
Pekajangan, Yayat, Ibu dan kakaknya berfikir bahwa Pekajangan desa yang
berindustri tidak seseram di Wonopringgo, sudah pasti penduduknya banyak yang
kaya. Meski Keluarga Yayat bin Thayib belum tergolong kaya, Ayah dan Ibu Yayat
aktif terjun dalam organisasi milik orang Pekajangan. Pekajangan merupakan
daerah yang mendapat perhatian atas peristiwa Agresi Militer Belanda yang
pertama. Yayat mengenang pengalamannya 2 tahun yang lalu bersama Mas Sono yang
menjadi Perwira Pasukan Hizbullah. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 21 Juli
1947 dimana atas saran Mas Sono, keluarga Yayat bin Thayib meninggalkan kota
Pekalongan dan mengungsi di daerah Kuripan Lor. Baru tinggal dua hari, Yayat
dan keluarganya diajak oleh Mas Sono ke Markas barunya untuk mengamankan diri
dari Serangan Belanda. Belanda melanggar isi Perjanji Linggarti. Ketika Mas
Sono memerintahkan pasukannya keluar, Yayatpun ikut keluar tanpa tujuan.
Untungnya, Yayat ditolong oleh salah satu pasukan Mas Sono dan dibawanya ke
desa Kranji Kedungwuni , desa dimana Mas Sono dan pasukan Hizbullah lainnya
menyusun taktik. Yayat mengenang pengalamannya kembali bersama Mas Sono dimana
selama 10 hari Yayat bergabung dengan Pasukan Hizbullah dan jauh dari Ayah, Ibu
serta kakaknya.
Kembali pada perjalanan menuju
Pekalongan. Yayat dan keluarganya beristirahat di desa Buaran sambil minum
legen. Ibu Yayat meminta Yayat kembali sekolah, meskipun sekolah Partikuliran ,
Muhammadiyah, atau Al Irsyad. Yang jelas jangan menunjukkan sikap Republiken
alias tunduk saja pada peraturan disitu. Termasuk jangan menyanyi lagu RI,
melainkan lagu Nippon. Tentu saja itu sulit bagi Yayat. Ditengah perjalanan,
mereka dihadang seseorang berpakaian silat namun bukan mereka yang turun
menghampiri, melainkan Wak Parto. Wak Parto mengabarkan pada Yayat sekeluarga
bahwa nanti di Kantor Socialle Zaken kami akan
diberi uang. Wak Parto semakin memuji muji Belanda bahkan menghina bahwa
Uang ORI yang bergambar Presiden Soekarno sudah tidak laku dimana mana.
Sesampainya di rumah Wak Kaji (RH
Sulaiman), kami disambut senang sekali oleh Budhe Brenti. Wak Kaji menawari
kami makan siang, namun pilihannya di tentukan oleh Yayat. Kurang ajarnya,
Yayat ditanya malah nyelelek sehingga Mas Mardi marah dan mengatakan bahwa
Yayat bermaksud mendapat pujian sebagai anak yang pintar. Seusai shalat dhuhur,
Yayat membantu Dhik Afiyah mencuci piring. Setelah selesai, Yayat ke kamar Dhik
Afiyah melihat catatan miliknya. Catatan pertama yayat membuat ia mengenang
akan kata kata Ayahnya setelah Ayahnya melihat Raport Yayat. Yayat mendapat
peringkat Satu. Ayah Yayat berpesan agar Yayat mencatat peristiwa ini dalam
buku Notes pemberian Ayahnya karena telah mendapat peringkat satu. Lamunan
Yayat dibuyarkan oleh Mas Mardi. Mas Mardi bilang bahwa Yayat memasuki kamar
Perempuan. Yayat disarankan Mas Mardi agar tidur di kamar Yu Ramelah karena
kamar Yu Ramelah sudah kosong semenjak Yu Ramelah ikut suaminya.
BAB II
Sekolah sudah
lama diliburkan karena seluruh ruang kelas akan dijadikan asarama. Perang besar
diperkirakan akan terjadi. Namun sekolah masih tetap buka seperti biasanya.
Banyak pedagang sayur dan buah yang hilir mudik. Karena hari minggu, Yayat
seperti biasa membantu Ibunya. Jika dulu waktu dibanjaran berjualan gethuk,
sekarang di Warungasem yayat berjualan pisang rebus. Selama berjualan, ia harus
mematuhi aturan ibu yaitu tidak jajan, hanya boleh beli minum saja. Kadang
hasil penjualannya justru lebih banyak ruginya ketimbang untung. Ibu Yayat
memutuskan untuk pergi kepasar Warungasem bersama Yayat dan Mbak Ati. Mas Mardi
yang tidak bisa ikut menemani Ibunya karena dipanggil oleh Pak Thayib ke
Wonosobo. Sepulang dari Wonosobo, Mas mardi mengajak Yayat, Ibu dan Mbak Ati
menemui bapak ke Wonosobo.
Pak Thayib dan
keluarganya tinggal di rumah Pak Jufri
selama berbulan-bulan. Kehidupan mereka di Wonosobo jauh lebih layak
dibandingkan hidup di banjiran. Di Wonosobo mereka bisa mengayom pendidikan
sesuai umur mereka masing-masing. Termasuk Yayat yang duduk dibangku Kelas V di SR Longkrang 2. Konon,
sekolah Yayat ini adalah Hotel Dieng, Hotel termegah di Karasidenan Kedu.
Perjalanan Yayat ke Pasar untuk menjual ayamnya, ia ditarik tangannya oleh Mas
Mardi memberitahukan bahwa Jogja dibom oleh Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta
ditawan Belanda yang barusaja disiarkan oleh RRI (Radio Republik
Indonesia). Keesokan harinya, Yayat melihat pesawat Belanda yang berulang
kali meluncurkan bomnya. Pukul 11 siang, Pak Thayib yang tadinya dikoperasi
mengajak seluruh keluarganya meninggalkan Wonosobo. Sempat terjadi perdebatan
antara Pak Thayib dan Ibu.
Ibu tidak
menginginkan mengungsi jika Mas Mardi tidak ikut mengungsi. Pak Thayib berhasil
membujuk Ibu mengungsi karena mereka juga sama sama menyayangi Mas Mardi. Ibu
yang sanat menyayangi Mas Mardi karena harus berjuang melawan Belanda, disisi
lain Pak Thayib juga menegaskan bahwa Mas Mardi menjadi seorang Republiken demi
mempertahankan Kemerdekaan RI. Sebelum mengungsi, Pak Thayib meminta agar Ayam
jago dan perbekalan secukupnya dibawa. Entah dimanapun tinggalnya yang penting
mengungsi. Seluruh warga Wonosobo juga mengungsi. Serdadu Belanda mulai
bermunculan. Bom bom diledakan dan peluru peluru ditembakkan ke darat. Banyak orang
yang jongkok bertiarap mendengar dentuman ledakkan bom dan luncuran peluru. Pak
Thayib menegaskan bahwa Belanda telah menyerang Bumi Pertiwi melancarkan Agresi
Militernya. Begitu ledakkan dan luncuran pesawat maupun bom menyingkir, para
Warga kembali berdiri.
BAB III
Perjalanan Yayat, Pak Thayib dan
Sekeluarga meninggalkan Wonosobo untuk mengungsi melewati area yang berbahaya seperti sungai deras, hutan lebat.
Sampai di desa Sedomulyo Pak Thayib dan sekeluarga bertemu dengan kawan seperjuangan Pak Thayib diantaranya Pak
Muhtar, Pak Soempeno, Pak Kasim, Pak Wigdado, dan Pak Usman dimana mereka
memiliki jabatan penting pemerintahan kota Pekalongan. Selama di desa Sedomulyo
mereka mengandalkan pancuran air yang mengucur dari perut bumi. Perjalanan
selanjutnya adalah ke Desa Karanggondang yang menurut Pak Usman harus melewati
hutan lebat yang masih dihuni banyak satwa liar alias binatang buas. Untuk
memasuki hutan itu, perlu memakai Caping atau topi kepala untuk melindungi diri
dari serangan binatang buas yang bergelantungan diatas pohon. Sampai digerbang
Desa mereka disambut oleh Pemuda berbedil yang ternyata anak buah dari Kapten
Endro dan mereka diantar ke Markas Kapten Endro. Mereka dijamu oleh Kapten
Endro dengan jamuan yang enak. Selanjutnya, Pak Thayib sekeluarga beserta kawan
seperjuangan Pak Thayib menuju desa Lolong.
Sampai di gerbang desa, Yayat
bertemu dengan Mas mardi dan mereka saling terharu satu sama lain. Ditemani
Gito, Kawan Mas Mardi yang menjelaskan betapa susah payahnya berjuang satu
setengah bulan menghadapi Agresi Militer Belanda. Mereka melanjutkan perjalanan
bersama Mas Mardi untuk keluar dari Hutan Lebat. Tanah yang becek, jurang yang
dalam dan gemerisik binatang sejenis serangga yang menusuk telinga. Didekat
sungai Sengkarang dari rerumputan dedaunan terdengar suara truk yang sudah
dipastikan Pasukan Belanda. Mas Mardi yang berusaha mengajak Yayat dan Mbak
Atik kejurang justru malah jatuh ke jurang. Segera Yayat dan Mbak Atik
mennolong untuk mengurut kakinya Mas Mardi yang sakit. Parahnya, Pak Thayib
dibawa oleh Serdadu Belanda dan dimasukkan kedalam Tank kecil dan Bu Thayib
juga hilang entah kemana.
Yayat yang bersikeras ingin mencari
Ibunya dilerai Kakak kakaknya karena hari sudah gelap dan area yang dilewati
cukup berbahaya. Sempat mereka menemui bunga yang dikira mata harimau sampai
sampai mereka harus memukul semak belukar. Mereka yang tadinya mengira Bu
Thayib hilang ternyata Bu Thayib selamat dan berada di markas Kapten Endro dan
mereka menemukan Bu Thayib dengan perasan baru sekaligus bangga. Bu Thayib
menceritakan perjuangan dirinya selamat. Ia menerobos tanah longsor, mengikuti
Serdadu Belanda yang mengenali salah satu anggota keluarga Bu Thayib dan akhirnya sampai di Markas Kapten Endro.
Keesokkan harinya, Bu Thayib dan sekeluarga melanjutkan perjalanan melewati
Hutan lebat Karanggondang-Lolong . Perjalanan mereka seringkali menemui macan
kumbang, dan monyet monyet liar. Sesekali mereka mengobrol. Mbak Atik yang
berfikir bahwa Bu Thayib pilih kasih. Bu Thayib lebih menyayangi yayat dengan
bukti selalu menangisi yayat saat hilang, beda dengan Mas Mardi pergi ibu tidak
menangis sama sekali. Bu Thayib menyanggah karena bu Thayib tidak merasa pilih
kasih dan menyayangi semua anaknya. Bu Thayib lebih menyayangi Yayat karena
yayatlah yang lebih banyak kekurangan dibandingkan Mardi dan Mbak Atik.
Di perjalanan mereka bertemu dengan
Mak Carmad dan pak Carmad. Mereka selalu menceritakan seluk beluk hutan
Karanggondang-Lolong ini. Terlebih pak Carmad mampu menunjukkan mereka area
yang mudah dilewati dan bagaimana melewati sungai yang berjembatan panjang.
Selama berjalan mereka harus buang muka pada serdadu belanda. Pak Carmad pun
membantu Bu Thayib beserta anaknya mengantar mereka ke rumah Wak Parto.
BAB IV
Ketiga Bab diatas adalah
catatan Buku Harian milik Kakek Yayat
bin Thayib. Bab Ini adalah catatan buku harian milik Afi yaitu cucu dari Kakek
Thayib. Kakek Thayib mengajak anak cucunya berlibur sambil belajar sejarah. Pak
Marto, menantu Kakek Yayat atau Ayah Afi yang menjadi supir mobil, sedangkan Bu
Ita, anak kakek Yayat ibunya Afi dan Bagus yang membawa perbekalan selama
liburan sedangkan Kakek Yayat sendiri sebagai Pemandu Wisata.
Setelah perjalanan yang cukup jauh
dan menghabiskan perbekalan yang cukup banyak, akhirnya sampai juga didesa
Lolong. Sampai di jembatan sungai dekat desa Lolong, Kakek Yayat mulai
menceritakan kisah nyata sejarah kakek Yayat beserta keluarganya melawan
penjajah. Tokoh Besar RI yaitu Bung Karno dan Bung Hatta diasingkan dan ditawan
Belanda dipulau yang jauh oleh Pemerintahan NICA. Di Pekalonga, NICA tidak
mampu menjamah seluruh desa yang ada. Desa Lolong yang mempunyai Kepala Desa
Recomba alias pembantu Belanda ternyata seorang Republiken. Nama Lurah itu
tidak lain adalah Pak Carmad yang telah membantu perjalanan keluarga Kakek
Yayat melawan penjajahan selama Kakek Yayat kecil. Pak Carmad yang mati karena
tertembak belanda saat mencoba menepi ke Sungai. Kematian Pak Carmad itu karena
Di desa Lolong mempunyai pengkhianat Indonesia yang setia pada Belanda.
Pengkhianat itu melaporkan Pak Carmad yang telah membantu para Republiken
kepada Belanda.
Mengingat hal itu, ada perasaan
sedih dalam batin Kakek Yayat. Karena pada jaman penjajahan belanda tidak semua
rakyat Cinta Tanah air, ada juga yang setia Pada Belanda. Ada yang pengkhianat
sembunyi, Pegawai Recomba yang terang terangan juga para pasukan Belanda dari
kaum pribumi. Pak Carmad yang diselamatkan warga desa dengan segenap cara agar
jasad pak Carmad bisa diangkat ke tepi Sungai. Pak Carmad dimakamkan di desa
Lolong. Islam atau bukan pak Carmad tetap diperlakukan layak sebagaimana
Jenazah islam. Kakek Yayat juga menceritakan Nippon belanda yang meminta rakyat
dari semua golongan berkumpul dilapangan Kota Pekalongan. Ternyata para Nippon
itu melakukan pembantaian sadis kepada rakyat sehingga menimbulkan dendam para
Rakyat. Jumlah rakyat yang mati mencapai 37 orang sedangkan pembalasan rakyat
jumlah pasukan belanda yang mati tidak sampai 37 orang.
Kakek Yayat juga menceritakan
tentang Eyang Thayib. Eyang Thayib, ayahanda kakek Yayat adalah republiken yang
benar benar Ikhlas melawan tentara belanda. Eyang Thayib pernah ditawan
belanda. Selama ditawan, gertakan perlakuan kasar bahkan ancaman akan
dieksekusi mati didekat sungai pencongan. Seperti eksekusi mati Pak Carmad.
Setelah pemerintahan membaik dimana Indonesia sudah mulai aman, Eyang Thayib
mendapat Jabatan sebagai Kepala Jawatan
Penerangan tingkat Kota. Itupun dianggap eyang Thayib sebagai anugerah
yang luar biasa. Setelah selesai bercerita, Kakek yayat mengajak anak cucunya
pulang kembali ke Tegal. Itulah yang dimaksud Afi, berlibur bersama Kakeknya
dan Keluarganya sambil membuka lembaran sejarah.
Terima Kasih
Terima Kasih

Tidak ada komentar:
Posting Komentar