Senin, 25 Januari 2016

Merangkum Novel | Tugas Bahasa Indonesia

Judul Novel : Lolong Lelaki Lansia
    Penulis : S.N Ratmana
Penerbit : Forum Lingkar Pena (FLP) Tegal Self Publishing
Tahun Terbit : 2011
Jumlah Halaman : 240 Halaman

**Jumlah Bab dalam buku ini adalah 4 Bab. 




BAB I

            Afi, gadis kecil berusia 9 tahun tinggal bersama Ayah, Ibu , Adik dan Kakeknya. Untuk memperingati Usia Kakeknya, Yayat bin Thayib  yang genap 70 tahun, atas kemauan Ibu Afi, Keluarga Afi mengadakan syukuran. Syukuran tersebut dihadiri sekitar 15 orang termasuk Paklik dan Bulik Afi. Kakek hendak mengisi tasyakuran tersebut dengan sebuah kejutan. Keluarga Afi mengira bahwa Kakek akan menyanyikan lagu lagu Jepang yang beliau pelajari dulu waktu SD. Kakek tidak menyanyikan lagu jepang, justru membuka tas tua yang berisi setumpuk buku tulis. Buku itu adalah catatan kakek selama masih kanak kanak dan tentu saja sudah tua umur buku tersebut. Kakek membacakan isi buku tersebut kepada para hadirin dengan suara lantang. Isinya tertuang dalam 3 bab ini, berikut kisahnya.
            Yayat beserta Ibu dan Kakaknya mengembara dengan tujuan ke kota Pekalongan yang mereka mulai sejak tanggal 20 Desember 1948. Sudah pasti perjalanan mereka menuju Pekalongan adalah untuk bersilaturahmi pada Keluarga Raden Haji Sulaiman (Wak Kaji) dan Wak Brenti. Perjalanan ini mereka lakukan dengan naik dokar. Yayat sudah membayangkan makanan apa saja yang disiapkan keluarga Wak Kaji sesampainya mereka disana. Selama diperjalanan, Ibu Yayat sering murung memikirkan nasib Pak Thayib yang ditangkap oleh Belanda di tengah hutan. Ibu Yayat meminta agar anak anaknya selalu mendoakan Ayah mereka. Selama naik dokar, Yayat mengamati kuda dokar yang ia tumpangi. Ia membandingkan dokar ditempat itu dengan di Wonosobo yang agaknya ditempat itu dokarnya lebih bagus dan kudanya lebih gagah.
Setelah perjalanan, mereka menginap di rumah Wak Parto (Sahabat Karib Pak Thayib waktu muda). Meski sehari saja, serasa lama karena sikap Wak Parto yang bersebrangan dengan mereka yaitu Pro pada Penjajah Belanda. Wak Parto sendiri termasuk orang yang disegani karena beliau jago silat. Namun sayangnya, meskipun beliau berpendidikan rendah, lagaknya seperti orang yang berpendidikan tinggi. Sempat terjadi berkali kali ketegangan diantara Wak Parto dan keluarga Yayat karena Wak Parto lagi lagi mengagungkan Belanda. Terlebih menghina bahwa Presiden Soekarno pemimpin yang mencla mencle dan Pro pada penjajah Jepang. Pembicaraan Wak Parto yang lagi lagi mengangungkan Belanda selesai karena beliau mencela Ayah Yayat, Pak Thayib yang tidak mau bergabung dengan Belanda. Sehingga Ibu Yayat pun tersinggung dan marah.
            Perjalanan mereka selama melewati desa Wonopringgo agaknya menyakitkan bagi Yayat. Ia melihat bangunan Sekolah yang mana tempat belajar ia dan teman teman sebayanya. Alangkah terhinanya bangsa ini, anak anak bangsa dididik pada sekolah yang dikuasai Belanda. Mereka harus dididik mencintai bendera Belanda (Merah, Putih, Biru). Sesampainya di Pekajangan, Yayat, Ibu dan kakaknya berfikir bahwa Pekajangan desa yang berindustri tidak seseram di Wonopringgo, sudah pasti penduduknya banyak yang kaya. Meski Keluarga Yayat bin Thayib belum tergolong kaya, Ayah dan Ibu Yayat aktif terjun dalam organisasi milik orang Pekajangan. Pekajangan merupakan daerah yang mendapat perhatian atas peristiwa Agresi Militer Belanda yang pertama. Yayat mengenang pengalamannya 2 tahun yang lalu bersama Mas Sono yang menjadi Perwira Pasukan Hizbullah. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 21 Juli 1947 dimana atas saran Mas Sono, keluarga Yayat bin Thayib meninggalkan kota Pekalongan dan mengungsi di daerah Kuripan Lor. Baru tinggal dua hari, Yayat dan keluarganya diajak oleh Mas Sono ke Markas barunya untuk mengamankan diri dari Serangan Belanda. Belanda melanggar isi Perjanji Linggarti. Ketika Mas Sono memerintahkan pasukannya keluar, Yayatpun ikut keluar tanpa tujuan. Untungnya, Yayat ditolong oleh salah satu pasukan Mas Sono dan dibawanya ke desa Kranji Kedungwuni , desa dimana Mas Sono dan pasukan Hizbullah lainnya menyusun taktik. Yayat mengenang pengalamannya kembali bersama Mas Sono dimana selama 10 hari Yayat bergabung dengan Pasukan Hizbullah dan jauh dari Ayah, Ibu serta kakaknya.
            Kembali pada perjalanan menuju Pekalongan. Yayat dan keluarganya beristirahat di desa Buaran sambil minum legen. Ibu Yayat meminta Yayat kembali sekolah, meskipun sekolah Partikuliran , Muhammadiyah, atau Al Irsyad. Yang jelas jangan menunjukkan sikap Republiken alias tunduk saja pada peraturan disitu. Termasuk jangan menyanyi lagu RI, melainkan lagu Nippon. Tentu saja itu sulit bagi Yayat. Ditengah perjalanan, mereka dihadang seseorang berpakaian silat namun bukan mereka yang turun menghampiri, melainkan Wak Parto. Wak Parto mengabarkan pada Yayat sekeluarga bahwa nanti di Kantor Socialle Zaken kami akan  diberi uang. Wak Parto semakin memuji muji Belanda bahkan menghina bahwa Uang ORI yang bergambar Presiden Soekarno sudah tidak laku dimana mana.
            Sesampainya di rumah Wak Kaji (RH Sulaiman), kami disambut senang sekali oleh Budhe Brenti. Wak Kaji menawari kami makan siang, namun pilihannya di tentukan oleh Yayat. Kurang ajarnya, Yayat ditanya malah nyelelek sehingga Mas Mardi marah dan mengatakan bahwa Yayat bermaksud mendapat pujian sebagai anak yang pintar. Seusai shalat dhuhur, Yayat membantu Dhik Afiyah mencuci piring. Setelah selesai, Yayat ke kamar Dhik Afiyah melihat catatan miliknya. Catatan pertama yayat membuat ia mengenang akan kata kata Ayahnya setelah Ayahnya melihat Raport Yayat. Yayat mendapat peringkat Satu. Ayah Yayat berpesan agar Yayat mencatat peristiwa ini dalam buku Notes pemberian Ayahnya karena telah mendapat peringkat satu. Lamunan Yayat dibuyarkan oleh Mas Mardi. Mas Mardi bilang bahwa Yayat memasuki kamar Perempuan. Yayat disarankan Mas Mardi agar tidur di kamar Yu Ramelah karena kamar Yu Ramelah sudah kosong semenjak Yu Ramelah ikut suaminya.


BAB II

Sekolah sudah lama diliburkan karena seluruh ruang kelas akan dijadikan asarama. Perang besar diperkirakan akan terjadi. Namun sekolah masih tetap buka seperti biasanya. Banyak pedagang sayur dan buah yang hilir mudik. Karena hari minggu, Yayat seperti biasa membantu Ibunya. Jika dulu waktu dibanjaran berjualan gethuk, sekarang di Warungasem yayat berjualan pisang rebus. Selama berjualan, ia harus mematuhi aturan ibu yaitu tidak jajan, hanya boleh beli minum saja. Kadang hasil penjualannya justru lebih banyak ruginya ketimbang untung. Ibu Yayat memutuskan untuk pergi kepasar Warungasem bersama Yayat dan Mbak Ati. Mas Mardi yang tidak bisa ikut menemani Ibunya karena dipanggil oleh Pak Thayib ke Wonosobo. Sepulang dari Wonosobo, Mas mardi mengajak Yayat, Ibu dan Mbak Ati menemui bapak ke Wonosobo.
Pak Thayib dan keluarganya tinggal di rumah Pak  Jufri selama berbulan-bulan. Kehidupan mereka di Wonosobo jauh lebih layak dibandingkan hidup di banjiran. Di Wonosobo mereka bisa mengayom pendidikan sesuai umur mereka masing-masing. Termasuk Yayat yang duduk  dibangku Kelas V di SR Longkrang 2. Konon, sekolah Yayat ini adalah Hotel Dieng, Hotel termegah di Karasidenan Kedu. Perjalanan Yayat ke Pasar untuk menjual ayamnya, ia ditarik tangannya oleh Mas Mardi memberitahukan bahwa Jogja dibom oleh Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta ditawan Belanda yang barusaja disiarkan oleh RRI (Radio Republik Indonesia).  Keesokan harinya,  Yayat melihat pesawat Belanda yang berulang kali meluncurkan bomnya. Pukul 11 siang, Pak Thayib yang tadinya dikoperasi mengajak seluruh keluarganya meninggalkan Wonosobo. Sempat terjadi perdebatan antara Pak Thayib dan Ibu.
Ibu tidak menginginkan mengungsi jika Mas Mardi tidak ikut mengungsi. Pak Thayib berhasil membujuk Ibu mengungsi karena mereka juga sama sama menyayangi Mas Mardi. Ibu yang sanat menyayangi Mas Mardi karena harus berjuang melawan Belanda, disisi lain Pak Thayib juga menegaskan bahwa Mas Mardi menjadi seorang Republiken demi mempertahankan Kemerdekaan RI. Sebelum mengungsi, Pak Thayib meminta agar Ayam jago dan perbekalan secukupnya dibawa. Entah dimanapun tinggalnya yang penting mengungsi. Seluruh warga Wonosobo juga mengungsi. Serdadu Belanda mulai bermunculan. Bom bom diledakan dan peluru peluru ditembakkan ke darat. Banyak orang yang jongkok bertiarap mendengar dentuman ledakkan bom dan luncuran peluru. Pak Thayib menegaskan bahwa Belanda telah menyerang Bumi Pertiwi melancarkan Agresi Militernya. Begitu ledakkan dan luncuran pesawat maupun bom menyingkir, para Warga kembali berdiri.

BAB III
           Perjalanan Yayat, Pak Thayib dan Sekeluarga meninggalkan Wonosobo untuk mengungsi melewati area yang  berbahaya seperti sungai deras, hutan lebat. Sampai di desa Sedomulyo Pak Thayib dan sekeluarga bertemu dengan  kawan seperjuangan Pak Thayib diantaranya Pak Muhtar, Pak Soempeno, Pak Kasim, Pak Wigdado, dan Pak Usman dimana mereka memiliki jabatan penting pemerintahan kota Pekalongan. Selama di desa Sedomulyo mereka mengandalkan pancuran air yang mengucur dari perut bumi. Perjalanan selanjutnya adalah ke Desa Karanggondang yang menurut Pak Usman harus melewati hutan lebat yang masih dihuni banyak satwa liar alias binatang buas. Untuk memasuki hutan itu, perlu memakai Caping atau topi kepala untuk melindungi diri dari serangan binatang buas yang bergelantungan diatas pohon. Sampai digerbang Desa mereka disambut oleh Pemuda berbedil yang ternyata anak buah dari Kapten Endro dan mereka diantar ke Markas Kapten Endro. Mereka dijamu oleh Kapten Endro dengan jamuan yang enak. Selanjutnya, Pak Thayib sekeluarga beserta kawan seperjuangan Pak Thayib menuju desa Lolong.
            Sampai di gerbang desa, Yayat bertemu dengan Mas mardi dan mereka saling terharu satu sama lain. Ditemani Gito, Kawan Mas Mardi yang menjelaskan betapa susah payahnya berjuang satu setengah bulan menghadapi Agresi Militer Belanda. Mereka melanjutkan perjalanan bersama Mas Mardi untuk keluar dari Hutan Lebat. Tanah yang becek, jurang yang dalam dan gemerisik binatang sejenis serangga yang menusuk telinga. Didekat sungai Sengkarang dari rerumputan dedaunan terdengar suara truk yang sudah dipastikan Pasukan Belanda. Mas Mardi yang berusaha mengajak Yayat dan Mbak Atik kejurang justru malah jatuh ke jurang. Segera Yayat dan Mbak Atik mennolong untuk mengurut kakinya Mas Mardi yang sakit. Parahnya, Pak Thayib dibawa oleh Serdadu Belanda dan dimasukkan kedalam Tank kecil dan Bu Thayib juga hilang entah kemana.
            Yayat yang bersikeras ingin mencari Ibunya dilerai Kakak kakaknya karena hari sudah gelap dan area yang dilewati cukup berbahaya. Sempat mereka menemui bunga yang dikira mata harimau sampai sampai mereka harus memukul semak belukar. Mereka yang tadinya mengira Bu Thayib hilang ternyata Bu Thayib selamat dan berada di markas Kapten Endro dan mereka menemukan Bu Thayib dengan perasan baru sekaligus bangga. Bu Thayib menceritakan perjuangan dirinya selamat. Ia menerobos tanah longsor, mengikuti Serdadu Belanda yang mengenali salah satu anggota keluarga Bu Thayib dan  akhirnya sampai di Markas Kapten Endro. Keesokkan harinya, Bu Thayib dan sekeluarga melanjutkan perjalanan melewati Hutan lebat Karanggondang-Lolong . Perjalanan mereka seringkali menemui macan kumbang, dan monyet monyet liar. Sesekali mereka mengobrol. Mbak Atik yang berfikir bahwa Bu Thayib pilih kasih. Bu Thayib lebih menyayangi yayat dengan bukti selalu menangisi yayat saat hilang, beda dengan Mas Mardi pergi ibu tidak menangis sama sekali. Bu Thayib menyanggah karena bu Thayib tidak merasa pilih kasih dan menyayangi semua anaknya. Bu Thayib lebih menyayangi Yayat karena yayatlah yang lebih banyak kekurangan dibandingkan Mardi dan Mbak Atik.
            Di perjalanan mereka bertemu dengan Mak Carmad dan pak Carmad. Mereka selalu menceritakan seluk beluk hutan Karanggondang-Lolong ini. Terlebih pak Carmad mampu menunjukkan mereka area yang mudah dilewati dan bagaimana melewati sungai yang berjembatan panjang. Selama berjalan mereka harus buang muka pada serdadu belanda. Pak Carmad pun membantu Bu Thayib beserta anaknya mengantar mereka ke rumah Wak Parto.
          

BAB IV
            Ketiga Bab diatas adalah catatan  Buku Harian milik Kakek Yayat bin Thayib. Bab Ini adalah catatan buku harian milik Afi yaitu cucu dari Kakek Thayib. Kakek Thayib mengajak anak cucunya berlibur sambil belajar sejarah. Pak Marto, menantu Kakek Yayat atau Ayah Afi yang menjadi supir mobil, sedangkan Bu Ita, anak kakek Yayat ibunya Afi dan Bagus yang membawa perbekalan selama liburan sedangkan Kakek Yayat sendiri sebagai Pemandu Wisata.
            Setelah perjalanan yang cukup jauh dan menghabiskan perbekalan yang cukup banyak, akhirnya sampai juga didesa Lolong. Sampai di jembatan sungai dekat desa Lolong, Kakek Yayat mulai menceritakan kisah nyata sejarah kakek Yayat beserta keluarganya melawan penjajah. Tokoh Besar RI yaitu Bung Karno dan Bung Hatta diasingkan dan ditawan Belanda dipulau yang jauh oleh Pemerintahan NICA. Di Pekalonga, NICA tidak mampu menjamah seluruh desa yang ada. Desa Lolong yang mempunyai Kepala Desa Recomba alias pembantu Belanda ternyata seorang Republiken. Nama Lurah itu tidak lain adalah Pak Carmad yang telah membantu perjalanan keluarga Kakek Yayat melawan penjajahan selama Kakek Yayat kecil. Pak Carmad yang mati karena tertembak belanda saat mencoba menepi ke Sungai. Kematian Pak Carmad itu karena Di desa Lolong mempunyai pengkhianat Indonesia yang setia pada Belanda. Pengkhianat itu melaporkan Pak Carmad yang telah membantu para Republiken kepada Belanda.
            Mengingat hal itu, ada perasaan sedih dalam batin Kakek Yayat. Karena pada jaman penjajahan belanda tidak semua rakyat Cinta Tanah air, ada juga yang setia Pada Belanda. Ada yang pengkhianat sembunyi, Pegawai Recomba yang terang terangan juga para pasukan Belanda dari kaum pribumi. Pak Carmad yang diselamatkan warga desa dengan segenap cara agar jasad pak Carmad bisa diangkat ke tepi Sungai. Pak Carmad dimakamkan di desa Lolong. Islam atau bukan pak Carmad tetap diperlakukan layak sebagaimana Jenazah islam. Kakek Yayat juga menceritakan Nippon belanda yang meminta rakyat dari semua golongan berkumpul dilapangan Kota Pekalongan. Ternyata para Nippon itu melakukan pembantaian sadis kepada rakyat sehingga menimbulkan dendam para Rakyat. Jumlah rakyat yang mati mencapai 37 orang sedangkan pembalasan rakyat jumlah pasukan belanda yang mati tidak sampai 37 orang.
            Kakek Yayat juga menceritakan tentang Eyang Thayib. Eyang Thayib, ayahanda kakek Yayat adalah republiken yang benar benar Ikhlas melawan tentara belanda. Eyang Thayib pernah ditawan belanda. Selama ditawan, gertakan perlakuan kasar bahkan ancaman akan dieksekusi mati didekat sungai pencongan. Seperti eksekusi mati Pak Carmad. Setelah pemerintahan membaik dimana Indonesia sudah mulai aman, Eyang Thayib mendapat Jabatan sebagai Kepala Jawatan  Penerangan tingkat Kota. Itupun dianggap eyang Thayib sebagai anugerah yang luar biasa. Setelah selesai bercerita, Kakek yayat mengajak anak cucunya pulang kembali ke Tegal. Itulah yang dimaksud Afi, berlibur bersama Kakeknya dan Keluarganya sambil membuka lembaran sejarah.

Terima Kasih

Kamis, 19 November 2015

BIODATA

Nama                      : Afif Nabhan P, A,

Nama Panggilan    : Afif/Akilie

Kelas                       : X.1

TTL                         : Jakarta, 11 Oktober 2000

Agama                     : Islam

PUISI

Yo Brah, kali ini saya akan mengshare salah satu puisi buatan saya dan juga salah satu tugas dari pelajaran Bahasa Indonesia.

Sawah

Pada sore ini....
menghimpun yang cahayanya
telah pecah hari senja
dikala berburung
berterbangan di awanan

sawah tersusun dilereng gunung
berpagar dengan bukit barisan
sayup sayup ujung keujung
padi muda hijau berdandan
seperti satu jama'ah tanpa iman

kalau turun pipit berceria
merayap hingga di mayang padi
terdengar teriak suara wanita
menyuruh pipit menjauhkan diri

di danau wanita duduk menyulam
mata memandang padi huma
sekali sekali ia bermalam
dipetik hari muda pada batangnya

Badanku payah menanggung sakit
mencucur keringat sepanjang zaman
padi ku pupuk sejak semula
engkau tahu memakan saja